Layanan Publik

Kemendag Larang Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri dan Masker

BISNIS, YUK (19/3/2020)  ─ Kementerian Perdagangan terus berupaya mengutamakan pelayanan
kesehatan dan perlindungan masyarakat di tengah kondisi merebaknya virus Corona (COVID-19) saat
ini. Salah satu caranya dengan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 23 Tahun 2020
tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku Masker, Alat Pelindung Diri dan Masker.
“Salah satu strategi yang dikeluarkan pemerintah adalah mengeluarkan Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 23 Tahun 2020 tentang Larangan Sementara Ekspor Antiseptik, Bahan Baku
Masker, Alat Pelindung Diri dan Masker,” ujar Mendag Agus Suparmanto.
Permendag ini telah diundangkan pada mulai diberlakukan pada 18 Maret 2020 sampai 30 Juni 2020.
Permendag Nomor 23 Tahun 2020 ini adalah kebijakan larangan sementara untuk ekspor yang
diterbitkan sebagai upaya pemerintah menjaga ketersediaan antiseptik, bahan baku masker, alat
pelindung diri, dan masker.
“Produk kesehatan itu sangat penting untuk menjaga kesehatan dan perlindungan masyarakat dari
penyebaran virus COVID-19 di Indonesia,” tegas Mendag.
Secara teknis, Mendag menjelaskan jenis-jenis barang yang dilarang sementara ekspornya yaitu
antiseptik yang terdiri atas antiseptik hand rub, pembersih tangan (hand sanitizer), dan sejenisnya
yang berbasis alkohol (ex HS.3004.90.30); hand rub, hand sanitizer, dan sejenisnya mengandung
campuran dari asam ter batu bara dan alkali (ex HS.3808.94.10); hand rub, hand sanitizer, dan
sejenisnya dalam kemasan aerosol (ex HS.3808.94.20); hand rub, hand sanitizer, dan sejenisnya selain
yang mengandung campuran dari asam ter batu bara dan alkali, serta tidak dalam kemasan aerosol
(ex HS.3808.94.90).
Selain itu, juga bahan baku masker yang terdiri atas kain bukan tenunan jenis meltblown nonwoven
terbuat dari filamen dengan berat tidak lebih dari 25g/m2 (ex HS.5603.11.00) dan kain bukan tenunan
jenis meltblown nonwoven terbuat dari bahan selain filamen buatan dengan berat tidak lebih dari
25g/m2 (ex HS.5603.91.00).
Alat pelindung diri yang dilarang sementara ekspornya terdiri dari pakaian pelindung medis (ex
HS.6210.10.19) dan pakaian bedah (HS.6211.43.10). Sedangkan, untuk masker adalah masker bedah
(HS.6307.90.40) dan masker lainnya dari bahan bukan tenunan (nonwoven), selain masker bedah (ex
HS. 6307.90.90).
“Permendag ini diharapkan dapat memberikan kepastian regulasi bagi pelaku usaha alat kesehatan
serta masyarakat di Indonesia,” lanjut Mendag.
Mendag Agus mengungkapkan, Kemendag akan lakukan pengawasan di pasar dan bagi eksportir yang
melanggar ketentuan Permendag ini akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.(ask)

Editor: Askurifai

Sumber: humaskemendag

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 − 3 =

Most Popular

To Top