Business

Menperin Sidak Langsung Proyek Revamping TPPI Tuban

Menperin menyampaikan, hingga kuartal kedua 2020, pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional mencapai 8,65%.(foto: ist)

BISNIS-YUK.COM (9/10/2020) – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan langsung proyek revamping  PT. Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur masih berjalan dengan baik di kondisi pandemi Covid-19. Pembangunan proyek ini perlu diakselerasi karena akan mendukung program substitusi yang penting dan memperkuat struktur di sektor industri petrokimia.

“Kami mendukung proyek perluasan dan penambahan lini produksi yang tengah dijalankan oleh TPPI saat ini. Tentunya diharapkan menopang pembangunan sektor industri petrokimia nasional yang berdaya saing dan berkesinambungan, ”kata Menperin saat meninjau proyek revamping di PT TPPI, Tuban, Kamis (8/10).

Pada kunjungannya tersebut, Menperin Agus didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono serta Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam. Sementara itu, turut hadir Direktur Utama PT. Kilang Pertamina Internasional Ignatius Tallulembang, Presiden Komisaris TPPI Ardhy N. Mokobombang, dan Presiden Direktur TPPI Yulian Dekri.

Menperin menjelaskan, pembangunan TPPI berperan penting menjadi basis industri petrokimia yang memasok bahan baku olefin dan aromatik. “Rencana yang disampaikan oleh TPPI sejalan dengan program substitusi penting yang dicanangkan pemerintah, sehingga secara signifikan dapat mengurangi impor bahan baku kimia dan defisit transaksi berjalan di Indonesia,” tuturnya.

Menperin mengungkapkan, banyak sekali produk turunan yang bisa dilihat dari hasil industri petrokimia. “Masih terdapat kekosongan pada pohon industri, baik di hulu maupun industri antara, dan TPPI sudah membaca peluang tersebut. Sehingga pemerintah akan terus mendukung upaya TPPI dalam menciptakan kemandirian industri kimia nasional, ”imbuhnya.

Saat ini, TPPI sedang menjalankan proyek  revamping platforming  dan aromatik yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas  platforming unit  dari 50.000 barrel per hari menjadi 55.000 barrel per hari dan kapasitas produksi  paraxylene  600.000 ton per tahun menjadi 780.000 ton per tahun dengan biaya pembangunan sebesar USD180 juta.

Pekerjaan  Basic Engineering Design Package  (BEDP) yang dikerjakan oleh UOP sejak Maret 2020 telah selesaipada 25 September 2020. Sedangkan, pembangunan lima tangki secara total bakal dikebut hingga pertengahan Desember 2021.

Sementara itu, Proyek  revamping  TPPI akan dilaksanakan PADA Awal 2022 bersamaan DENGAN Pelaksanaan  berbalik , sehingga PADA Kuartal I-2022 diharapkan kilang Sudah DAPAT beroperasi Beroperasi Penuh. Terkait dengan dukungan TPPI untuk mengurangi impor  paraxylene , perusahaan sudah mulai mengoperasikan unit produksi  paraxylene  sejak Agustus 2020 secara  dual mode  (menghasilkan produk petrokimia dan produk BBM) dan akan ditingkatkan secara bertahap.

Saat ini, kebutuhan domestik  paraxylene  mencapai 1 juta ton per tahun, sedangkan pemasok dari dalam negeri selain TPPI adalah Kilang RU IV Pertamina yang mempunyai kapasitas produksi sekitar 200.000 ton per tahun. Untuk mengurangi paraxylene pada tahun 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280.000 ton per tahun  paraxylene  selain juga memproduksi bahan bakar Pertamax.

Bersama dengan produksi  paraxylene  Pertamina sebesar 220.000 ton per tahun, total produksi  paraxylene  dalam negeri menjadi 500.000 ton per tahun, atau dapat mengurangi impor hingga 50%.

Kemudian, pada tahun 2022, dengan selesainya pembenahan proyek   tersebut, TPPI akan dapat meningkatkan produksi  paraxylene  menjadi 780.000 ton per tahun, sehingga tambahan produksi tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan  paraxylene  dalam negeri bersama-sama dengan Pertamina.

Strategis sektor

Pada kesempatan yang sama, Menperin menyampaikan, industri petrokimia sektor hulu yang menjadi tumpuan ekonomi nasional sekaligus sebagai pemasok bahan baku utama bagi industri-industri di sektor hilirnya. “Inilah nilai strategisnya, sehingga industri kimia masuk dalam sektor yang mendapat prioritas pada roadmap  Making Indonesia 4.0,” ungkapnya.

Menperin menyampaikan, hingga kuartal kedua 2020, pertumbuhan sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional mencapai 8,65%. Capaian tersebut jauh di atas pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi. Pada tahun 2019, bersama dengan industri di sektor kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT), sektor tersebut berkontribusi kepada PDB sebesar Rp265 triliun.

“Selain itu, nilai investasi di sektor industri tercatat cukup signifikan, yaitu Rp6,04 triliun hingga Q2-2020. Indikator tersebut menunjukkan bahwa bahan kimia merupakan komoditas yang sangat strategis dan menentukan arah kebijakan pemerintah terutama di bidang ekonomi, ”paparnya.

Sebagaimana amanat Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN), industri kimia merupakan sektor hulu yang menjadi pondasi industri nasional atau sejajar bersama industri agro dan industri logam dasar dan bahan galian non-logam.

“Industri kimia merupakan pemasok bahan baku bagi industri  perantara  dan hilir untuk memproduksi produk akhir,” imbuhnya. Kebutuhan bahan baku yang kian hari semakin meningkat, membuat pelaku industri kimia harus berpacu untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Maka itu, kami mencanangkan agar impor dapat disubstitusi secara bertahap hingga 35% pada tahun 2022,” tegas Menperin. Adapun empat strategi yang perlu dijalankan, yakni pendalaman struktur industri, kemandirian bahan baku dan produksi, peraturan perlunya regulasi dan insentif yang mendukung, serta program peningkatan penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Agus menambahkan, pada kurun tahun 2020 hingga 2025, pemerintah mengawal proyek-proyek pembangunan industri kimia raksasa yang total nilai investasinya mencapai USD31 miliar. Beberapa di antaranya adalah pembangunan pabrik petrokimia di Cilegon, Tuban, dan Balongan.

“Selain itu ada juga inisiasi investasi gasifikasi batubara untuk pabrik  coal to chemical di Tanjung Enim dan Kutai Timur. Dengan segenap usaha investasi tersebut, diharapkan Indonesia dapat kembali memperbaiki sendi-sendi perekonomian nasional di sektor industri, ”pungkasnya. *

Sumber: humaskemenperin

Editor: sani

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 + 18 =

To Top