Business

Strategi Digital untuk Mengakselerasi Kemampuan Pelayanan Medis Melawan Wabah Covid-19

Strategi Digital untuk Mengakselerasi Kemampuan Pelayanan Medis
Pada 19 Maret 2020, Kementerian Kesehatan mengumumkan kerja sama dengan Docquity, sebagai anggota dari Aliansi Telemedik Indonesia (Atensi) untuk perekrutan dan pemberian pelatihan bagi tenaga medis untuk menangani pasien Covid-19.

Bisnis-yuk.com, JAKARTA—Tenaga medis khususnya dokter menjadi ujung tombak dalam penanganan suatu pandemi, salah satunya adalah Covid-19. Apa jadinya jika sebuah negara kekurangan tenaga dokter yang terlatih untuk menangani pandemi tersebut?

Pada awal Maret 2020, Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus perdana Covid-19. Hingga kini, jumlah kasus terkonfirmasi virus corona terus meningkat dan telah menembus 25.000 kasus hingga akhir Mei 2020.

Bahkan, penambahan jumlah kasus positif Covid-19 saat ini rata-rata berada di atas 500 kasus per hari. Hingga saat ini, penambahan kasus positif belum memperlihatkan perlambatan sehingga masih sulit memperkirakan kapan pandemi ini akan berakhir.

Pandemi Covid-19 telah berdampak ke seluruh sendi kehidupan setiap negara di dunia. Selain mengganggu perekonomian, pandemi ini juga memberikan efek kejut pada pelayanan kesehatan karena harus menghadapi lonjakan jumlah pasien positif corona.

Covid-19 pun memaksa setiap negara bergerak cepat dan akurat untuk memperkuat kapasitas layanan kesehatan dan kemampuan tenaga medis dalam menangani pandemi corona. Tak hanya Indonesia, negara-negara lain juga kelimpungan dalam menghadapi pandemi ini, bahkan negara-negara maju di Eropa dan Amerika.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan mengungkapkan dalam penanganan wabah kali ini, seluruh pihak harus bertindak cepat dan bersinergi. Pemerintah tak bisa bekerja sendirian dan membutuhkan banyak relawan medis baik dokter maupun perawat. Peran masyarakat tak kalah penting untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Virus yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China ini pun membawa tantangan tak mudah bagi tenaga medis secara global. Untuk menghadapi virus anyar dengan daya tular yang cepat tersebut, setiap negara harus menerapkan standar penanganan yang tepat.

Oleh karena itu, tak ada alternatif lain bagi praktisi medis untuk mengadopsi standar penanganan yang telah ditetapkan WHO. Di Indonesia, terdapat dua tantangan dalam implementasi penanganan pandemi Covid-19. Pertama, bagaimana menambah jumlah tenaga medis yang bersumber dari relawan. Kedua, bagaimana membekali mereka dengan pengetahuan tentang standar penanganan Covid-19 sesuai rujukan WHO.

Kedua tantangan tersebut makin sulit karena pemerintah memberlakukan pembatasan social skala besar yang membatasi mobilitas dan kegiatan masyarakat yang melibatkan pertemuan fisik. Satu-satunya langkah efektif dan efisien untuk mengatasi masalah ini adalah menggunakan saluran teknologi informasi.

Docquity pun hadir untuk memberikan solusi bagi permasalahan tersebut. Pada 19 Maret 2020, Kementerian Kesehatan mengumumkan kerja sama dengan Docquity, sebagai anggota dari Aliansi Telemedik Indonesia (Atensi) untuk perekrutan dan pemberian pelatihan bagi tenaga medis untuk menangani pasien Covid-19. Atensi merupakan asosiasi yang mewadahi berbagai aplikasi telemedisin di Indonesia.

Platform Docquity dipilih karena telah sukses mengumpulkan ribuan dokter di Indonesia sebagai pengguna aktifnya. Mereka saling terhubung setiap saat untuk berbagi materi edukasi tentang ilmu-ilmu kedokteran.

Sejauh ini, Docquity selaku mitra Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) per 26 Mei 2020, telah sukses merekrut 590 dokter yang terdiri dari dokter umum dan spesialis yang siap terjun melawan pandemi Covid-19.

Amit Vithal selaku CEO Docquity mengatakan pelatihan ini perlu dipersiapkan karena dampak dari pelayanan yang benar dan tepat akan sangat besar tidak hanya untuk kesembuhan pasien, tapi juga keamanan pasien dan para petugas medis yang terlibat di dalam pelayanan.

Relawan yang berhasil melalui proses rekrutmen dan pelatihan penanganan pandemi Covid-19 akan dikerahkan ke Wisma Atlet dan rumah sakit lainnya di Indonesia dengan semua akomodasi yang akan ditanggung oleh pemerintah.

Docquity memfasilitasi para pelaku tenaga kesehatan dalam melangsungkan proses pendidikan, pelatihan dan kolaborasi yang nantinya dapat berguna pada perawatan pasien yang lebih baik. Kemajuan teknologi yang ada saat ini memang memungkinkan para dokter saling berbagi informasi kesehatan, informasi obat, dan pelayanan yang cepat bagi para pasien.

“Para tenaga kesehatan di Indonesia pun dapat mendiskusikan dan membagikan pengalaman medisnya kepada para tenaga kesehatan lainnya serta memungkinkan mereka membagikan dan mempelajari artikel dan jurnal dunia kesehatan dari seluruh penjuru Asia yang diperbaharui setiap minggu melalui sebuah platform digital,” ujar Amit.

Dengan kata lain, plaform ini merupakan tempat berkumpulnya para dokter yang telah terverifikasi dengan tujuan saling bertukar pemikiran, pembelajaran, serta membangun komunitas untuk meningkatkan kualitas industri kesehatan di Indonesia guna memberikan layanan kesehatan yang lebih baik lagi.

Docquity, tuturnya, membangun ekosistem bagi semua pemangku kepentingan termasuk asuransi kesehatan, dokter, perusahaan farmasi, peralatan medis, publikasi konten medis, dan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan klinik.

Sejarah Docquity

Aplikasi ini diciptakan oleh Indranil Roychowdury berdasarkan pengalaman ayahnya yang hampir meninggal di rumah sakit. Pada 2011 lalu, orangtuanya mengalami tekanan darah rendah dan juga sakit dada. Seorang dokter senior telah mendiagnosisnya sebagai penyakit jantung dan mengatakan kepada keluarga bahwa ayahnya tidak akan lama untuk bisa bertahan hidup. Tapi di sisi lain ada seorang dokter lain yang mendampingi ayah Indranil selama tahap masa kritis itu terjadi.

Dokter pendamping itu tidak menyerah dan terus berusaha menangani ayah Indranil, bahkan sampai ia pun mencoba untuk menelpon rekan kuliahnya semasa di Amerika dan meminta pendapat kedua dalam kasusnya itu. Tidak lama kemudian dia meminta seorang perawat untuk memberikan 400mg Cordarone ke pasiennya tersebut.

Sang ayah akhirnya harus dirawat diruang ICU selama 90 hari dan setelah melewati waktu cukup lama ayahnya dinyatakan selamat dan sembuh total dari penyakit yang dideritanya. Bahkan sekarang dia sehat, yang dapat menyelamatkan adalah perantara suntikan dari dokter pendamping itu.

Seandainya informasi untuk memberikan obat tersebut tidak pernah dilakukan, juga dokter pendamping tersebut tidak mencoba menelpon sahabatnya, dan jika dokter tidak mendapatkan informasi tambahan itu, mungkin cerita akhirnya akan berbeda.

Editor : Sandi Priyadi

Sumber : Bisnis.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four − three =

Populer

To Top